WELCOME TO MY PERSONAL BLOGER : "FOY, TABEA, TAOP SONG, MAHIKAI, SWEII, AMULE MENO, NAYAK, WAINAMBEY, ACEM AKWEI, ABRESO..!!

Senin, Juni 8

"RESENSI BUKU : SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG"

“Seakan kitorang setengah binatang”, Rasialisme Indonesia di Tanah Papua. buku ini membawa kita ke dalam dunia perjuangan yang tidak menurut kepentingan pribadi atau suatu hegemoni kelompok, agama maupun suku tertentu di pesisir, di pulau-pulau atau yang di daerah hutan rimba dan lembah-lembah dari pegunungan west papua. Filep Karma membawa kita menjumpai perjuangan yang mulia for all nation who was lives in west Papua.

Di dalam buku ini, kita mengenal seorang putra dari mantan Bupati Wamena 1970 dan Bupati Serui 1980 ANDREAS KARMA. FILEP JACOB SAMUEL KARMA yang lazim hanya dikenal dengan nama FILEP KARMA. Dia di hukum 15 tahun penjara oleh Hakim di Pengadilan Negeri Jayapura – Papua sebagai political prisioners. Penghukuman terhadap Filep Karma tiga kali lebih berat dari tuntutan pidana (requisitoir) Jaksa/JPU kepada Hakim, bersamaan juga Filep Karma menurut diagnosa medis dihukum di dalam “penjara gangguan prostat” ditubuhnya yang tanpa ampun.

FIlep Karma di RSUD Dok -II Jayapura (Doc. Pribadi)
Filep Karma seperti seorang pemimpin tetapi dirinya tidak pernah menyebut “i’m the leader”  dengan jujur dan apa adanya, ini bukan taktik politiknya, sebab Indonesia pada dekade terakhir bersama west Papua selalu menghabisi aktor – aktor utama atau tokoh yang diapandang berprospek untuk menjadi pemimpin bangsa Papua. Filep Karma justru sangat loyal mengkritik tokoh-tokoh penting pejuang West Papua di dalam dan luar negeri dengan mengatakan, “NEGARA BELUM ADA TAPI REBUTAN JADI PRESIDEN”, Filep Karma mencontohkan kalau bicara dengan Indonesia selalu tuntutanya, Pepera itu tidak demokratis, tidak one man, one vote...., tetapi kalau ada pemilihan pemimpin  dikalangan kita sendiri, kok..! one man one vote tidak digunakan atau dipertahankan..??? seperti contoh pemilihan pemimpin pada Kongres Rakyat Papua/KRP II, KRP III dan masih banyak lagi contoh – contoh lain yang bisa dilihat mengenai pemilihan pemimpin bangsa Papua.   

Filep Karma mengungkit kisah yang sempurna untuk menjawab isolasi informasi terhadap perjuangan kemerdekaan yang dialancarkan media – media, dia menceritakan pergerakan yang membawanya ke dalam penghukuman yang kejam dan tak manusiawi, “setengah binatang”. Filep karma membawa dirinya ke dalam situasi yang sangat berisiko dan mempertaruhkan nyawanya kepada pemerintah Indonesia sejak tahun 2004 – 2015. Filep Karma sendiri punya keluarga terutama – anak yang membutuhkannya, tetapi dia menjawab dengan bahasa yang mulia kepada anak-anaknya (Audryne dan Andrefina Karma), “KETIKA SAYA MEMIKIRKAN ORANG BANYAK DI PAPUA DI DALAMNYA ADA KALIAN”.

Dia, Filep Karma memberi teladan seperti seorang guru yang mengajarkan pengampunan, seakan kitorang setengah binatang, adalah ungkapan yang terbuka dari dalam dirinya untuk Papua. Filep Karma mengaku dengan cara yang tidak menuduh, tetapi dengan cara yang mengampuni, padahal dia saksi, dia korban, dia tidak hanya melihat dan mendengar cerita orang tetapi dia mengalami dan mengetahui secara langsung siapa manusia yang melakukan tindakan tak berprikemanusiaan itu. FILEP KARMA MEMBERI CONTOH MENGAMPUNI DENGAN JUJUR DAN TULUS, TETAPI NEGARA INDONESIA JUSTRU MEMBUJUK FILEP KARMA UNTUK MINTA AMPUN MELALUI POLITIK GRASI TAHANAN POLITIK.

Seakan kitorang setengah binatang, adalah buku yang sepantasnya menjadi referensi perjuangan damai tanpa kekerasan masa kini, ...
Filep Karma adalah Nelson Mandela West – Papua
Filep Karma adalah Marthin Luther King West Papua
Filep Karma adalah Mahatma Gandhi, West Papua.

“Maaf, ini perjuangan damai, jadi kitorang tak boleh pakai kekerasan, tak boleh memakai senjata yang membahayakan orang lain...”
Filep Karma (Orasi pada 2 – 5 Juli 1998, sebelum peristiwa Biak berdarah di Tower Air, Puskesmas – Biak, West Papua)


“Perbedaan tidak bisa dipaksakan jadi satu. Tapi dalam perbedaan kitorang jadi satu” (Filep Karma, 2014)


“Bangsa Papua adalah tiap orang yang mengakui bahwa dirinya orang Papua dan mencintai bangsa Papua dan rela berkorban bagi bangsa Papua. Ini tanpa melihat suku, etnis dan bahasa. Memang banyak teman mengatakan bahwa orang Papua harus hitam dan keriting” (Filep Karma, 2014).