WELCOME TO MY PERSONAL BLOGER : "FOY, TABEA, TAOP SONG, MAHIKAI, SWEII, AMULE MENO, NAYAK, WAINAMBEY, ACEM AKWEI, ABRESO..!!

Senin, Juni 10

Resensi : “MENELUSURI ZAMAN”, Memoar dan catatan kritis


Penulis                              Kwik Kian Gie
Penerbit                            PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman           259
Tahun Pertama Terbit  2017
Harga (Pulau Jawa)       Rp. 105.000
                                            
Buku ini secara garis besar ditulis oleh penulis (Kwik Kian Gie) untuk mengungkap profile dia sebagai aktifis pelajar dan mahasiswa yang kemudian mengantarkannya hingga menjadi ekonom terkenal Indonesia, dia tidak hanya berkarir dalam hal-hal berkaitan dengan bisnis sebagaimana latar belakang pendidikannya, melainkan pencapaian karir penulis meroket hingga ke pemerintahan Negara Indonesia.

Hal paling mengesankan yang diungkap penulis secara terbuka yakni  sepak terjang penulis ketika masih berstatus mahasiswa di Nederlandse Economische Hogeschool (NEH) Roterdam tahun 1957, penulis kemudian dilibatkan dalam kegiatan intelligence Pemerintah Indoneia di Belanda. Tidak lain kegiatan ini dilakukan kala hubungan diplomatik Indonesia dan Belanda sedang putus hanya masalah Irian Barat.  Kegiatan spionase dilakukan penulis bersama teman-teman penulis (mahasiswa Indonesia) diantaranya Basuki Gunawan, Ramli Kasim, Krisno Nimpuo, Tan Hoan Koen dan Soediono Tjondronegoro. Penulis dan tim bekerja untuk Mohammad Samadikun dan Frans Kho Mariakasi yang mana penulis sendiri baru mengetahui belakangan bila dua nama itu merupakan kelompok intel Indonesia di Belanda. Apa yang dilakukan penulis dalam kegiatan intel disamping studi adalah melobi elit politik Belanda agar melepas Irian Barat ke Indonesia.  lobby-lobby politik yang telah dilakukan penulis untuk membantu Jakarta merebut Irian Barat diantaranya, melooby Prof De Gay  Fortman dari partai Kristen, termasuk melooby ketua fraksi partai buruh Belanda J. de Kadt. Berdasarkan lobby – lobby ini, penulis bahkan mengetahui secara langsung kalau “mayoritas kalangan elit Belanda sesungguhnya keberatan melepas Irian Barat ke Indonesia”.

Kegiatan-kegiatan melooby diatas disediakan dalam laporan-laporan tertulis yang kebetulan penulis sendiri yang ditugaskan untuk mempersiapkan laporan itu dan mengirimkan secara teratur dan rahasia ke Jakarta melalui atase militer RI di Bonn (Jerman Barat). Sampai suatu ketika kegiatan rahasia ini diketahui oleh intel Belanda, penulis memberitahukan kegiatannya yang diketahui intel Belanda kepada pihak intel Indonesia di Belanda, penulis kemudian disarankan untuk mengirimkan laporan-laporan tertulis ke Bonn tidak lagi dari Belanda melainkan penulis harus bepergian ke Antwerpen (Belgia) dan mengirimkannya dari sana ke Kolonel Waldi (atase militer kedubes RI di Bonn).

Aktif dalam kegiatan intel tidak hanya seperti diatas, “melooby mahasiswa Papua di Belanda untuk mendukung perjuangan Indonesia mengembalikan Irian Barat ke Ibu pertiwi juga secara aktif dilakukan penulis”. Di dapati enam mahasiswa Papua (sayang sekali, tidak disebutkan nama) di Belanda dan bersedia membelot pro-Indonesia, untuk menghindari kecurigaan mereka dibawa melalui Belgia, dari sini enam mahasiswa Papua diterbangkan ke Jakarta, mereka muncul dan memberikan konferensi pers di Jakarta menyatakan bahwa “Irian Barat merupakan bagian dari Indonesia”, alangkah terkejutnya Pemerintah Belanda ketika menyaksikan enam mahasiswa Papua tersebut konferensi Pers di Jakarta.

Lantaran keberhasilan-keberhasilan penulis diatas, misi intel terus berlanjut, penulis dipercayakan terlibat dalam misi Soekarno dalam merebut Irian Barat dengan pendekatan psychological warfare, penulis ditugaskan mengumpulkan seluruh berita (kliping) melalui surat kabar dan radio di Belanda yang berkaitan dengan Irian Barat, hasil inilah yang kemudian menjadi bahan analisis untuk membuat keputusan-keputusan strategis Indonesia di Jakarta terhadap Irian Barat.
  
Tak menutup kemungkinan, keberhasilan penulis dalam misi intelligence diatas mendorong karir penulis berkembang dengan pesat.

Tahun 1963 – 1964 Penulis bekerja sebagai staf pada atase kebudayaan dan pers KBRI Belanda. Tahun 1964 penulis kembali ke Jakarta, bekerja diluar pemerintah sebagai direktur PT. Indonesisch Nederlandse Goederen Associatie (INGA), perusahan joint venture antara Intra-Port Raya dan perusahan Belanda yang berbisnis dalam bidang hasil bumi. Mendirikan lembaga keuangan non-Bank bernama Indonesian Financing and Investment Company (IFI), hingga pekerjaan bisnis penulis yang terakhir sebagai agen tunggal untuk TV bermerek Gratez, asal Jerman.

Masuk ke dunia pendidikan di Indonesia, penulis terlibat dalam bekerja sebagai Yayasan Universitas Trisakti Jakarta, Tahun 1982 penulis ikut mendirikan Institut Manajemen Prasetya Mulya (IMPM), sekolah bisnis pertama di Indonesia. Dan penulis juga mendirikan Institut Bisnis Indonesia (IBII) yang kemudian berubah menjadi STIE IBII.

Hingga akhirnya penulis juga terlibat dalam kegiatan di dunia politik (Partai politik) bersama Partai Demokrasi Indonesia (sekarang PDI Perjuangan), tahun 1986 penulis terlibat di jajaran pengurus pusat dan mengabdi sebagai Baltibang Partai dan melalui Pemilu tahun 1987, penulis terpilih dan dilantik sebagai anggota MPR RI utusan Propinsi DKI Jakarta.

Memasuki era pemerintahan Gusdur, penulis mencicipi posisi menteri kordinator ekonomi (Menkoekwin), suatu ketika tahun 2001 penulis diundang secara pribadi (tidak dalam kapasitas sebagai Menkoekwin RI) bertemu dengan Ratu Beatrix di Belanda, entahlah mungkin kerajaan Belanda tahu penulis pernah bekerja sebagai intel Indonesia di Belanda yang kini menjabat menteri, dalam pertemuan itu, penulis mendengar sendiri secara langsung pernyataan ratu Beatrix soal Papua “Irian Barat tidak sepantasnya menjadi bagian dari NKRI alasanya ialah bahwa orang papua dari etnis Melanesia dan Indonesia dari melayu”.

Usai, Megawati terpilih sebagai Presiden RI menggantikan Gusdur, penulis malah ditempatkan dalam cabinet dengan menjabat sebagai menteri Negara perencanaan pembangunan nasional/kepala BAPENAS. Suatu ketika penulis diminta Megawati (Presiden) untuk mendampinginya bertemu Ruud Lubers (Perdana Menteri Belanda) yang berkunjung ke Jakarta.  Dalam pertemuan ini, penulis mendengar lagi pernyataan Lubers seakan mengingatkan Indonesia soal organisasi Papua Merdeka,  ia mengingatkan “Organisasi Papua Merdeka bermarkas di Belanda. Pemerintah Belanda tidak bisa melarangnya, karena pembentukan government in excile memang dibolehkan oleh sistim ketatanegaraan Belanda, pemerintah Indonesia perlu waspada, karena OPM sangat kuat organisasinya, mempunyai jaringan internasional yang luas dan memperoleh bantuan dari Amerika serikat”.  

Atas kesemuan memoir ini, khusus mengenai Irian barat atau Papua, penulis tidak mengungkap sikap atau pendirian dia atas Irian Barat atau Papua itu seperti apa. Padahal ada begitu banyak pengalaman penulis ketika mengabdi di KBRI Belanda hingga pusat kekuasaan pemerintah di kedua Presiden RI (Gusdur dan Megawati). Penulis bahkan mengetahui respon petinggi – petinggi Negara di Belanda untuk masalah Irian Barat, tentu sangat menarik sekali bila suatu ketika nanti penulis akan membuat keputusan untuk menulis memoarnya tentang Irian Barat.@moneste

 
Oleh :  Simon Banundi (Pecinta Buku)