WELCOME TO MY PERSONAL BLOGER : "FOY, TABEA, TAOP SONG, MAHIKAI, SWEII, AMULE MENO, NAYAK, WAINAMBEY, ACEM AKWEI, ABRESO..!!

Selasa, September 26

"Cerpen : Kasih Yang Mengubah"



           Karya : Julio Sandia

Cerita ini mengambil latar sebuah kota Teluk yang sangat indah, Kota Jayapura. Diawali dari seorang gadis bernama Rika yang sekian tahun menjalin cinta dengan Yusak, laki laki yang sangat tampan dan baik dimatanya, namun dalam perjalanan cinta mereka, Yusak memutuskan hubungan cinta indah itu, hanya karena berpaling hati ke sahabat karib Rika, Yuli namanya. Luka hati yang dalam dan kekecewaan yang sangat menyakitkan, Yusak tega melakukan semua itu, dan Yuli juga tega, menghianati sahabat karibnya Rika.


Dalam kegalauan hatinya, Rika berusaha mengisi waktu berlatih vocal group di kompleksnya, sebuah sikap yang bijak, cara berpikir positif yang didapat dari orang tuanya dan pendidikan yang diperolehnya sebagai seorang mahasiswi  Fakultas Hukum sebuah universitas ternama di Jayapura.


Disuatu sore yang indah dan tenang, seorang pemuda bernama Bernard, datang bertamu ke rumah Rika. Kedatangan Bernard bukan tanpa rencana, sedari tadi Bernard sudah nongkrong di mata jalan, jadi dia tau persis kalau orang tua dan saudara saudara Rika sedang keluar. Sebuah rencana lama yang yang tertahan.

Untuk menutupi perasaan grogi atau untuk membangkitkan keberaniannya atau entah untuk apalah, Bernard mampir di sebuah warung kecil langganan dia dan teman temannya, membeli sebotol yance (yang ceper), istilah buat salah satu jenis minuman keras.


“Sore Rika..”

Sapa Bernard dengan suara agak pelan dan bersikap sangat manis,

Dia takut kalu Rika bisa mencium bau minuman keras dari mulutnya.

“Sore…ada perlu apa ni” 
tanya Rika penuh selidik.

“Ah trada, Cuma mo bertamu sama ko saja”.. jawab Bernard.

“Oh.. sa kira ada apa… mari masuk” 
Rika mempersilahkan tamunya masuk.

Sebagai seorang gadis yang selalu diajari tata karma dan sopan santun, Rika bersikap ramah dan baik pada Bernard sore itu, lagi pula Bernard bukanlah orang asing di mata Rika. Bernard adalah salah satu kakak di kompleksnya dan sudah berteman sejak kecil.


“Rumah sepi sampe”….

Kata Bernard pura pura tidak tahu, sekaligus ingin tau situasi rumah sebab Bernard segan pada orang tua Rika. Orang tua mereka sudah saling mengenal dan saling menghormati, hal itu membuat Bernard perlu menjaga sikapnya.


“Mama deng Bapa ada pi ke bapatua dong di tanah hitam, Kk Ony ada ke angkasa, Mia deng Jose sa tra tau dong ke mana “.. jawab Rika.

“Anak dua tu biasa, kalo jalan tra pernah kastau, tadi Mia pu teman ada cari dia juga” Rika memberi penjelasan dengan sedikit kesal karena sikap kedua adiknya.

Oo….io.. kemana mana tu harus kase tau orang yang di rumah”… Bernard mencoba menjadi seorang yang bijak . padahal dalam hatinya dia sangat senang.

“Ah semoga dong smua jang kembali dulu sampe sa pulang” ucap Bernard dalam hati.


“mmmmm… k ko minum to ….??#*!”

Tanya Rika dengan penuh selidik, karna dia sudah tidak asing lagi dengan kebiasaan Bernard yang notabene adalah teman sepermainan sejak kecil, sehingga mereka sudah sangat kenal kebiasaan masing masing. Bernard tak sanggup membohongi Rika, gadis yang sangat disukainya.


“Io.. ! sedikit saja…. Tadi anana dong tahan sa di mata jalan, dong paksa sa minum sedikit jadi sa tra enak juga”,

jawab Bernard dalam pembelaan diri seolah-olah hal ini dilakukan karena terpaksa padahaal…tididittt.

“Kk kam stop minum suda ka.. tra baik buat kesehatan, merusak badan…” Rika sedikit memberi nasehat. Walau dia sebenarnya tidak menyukai kehadiran Bernard dalam keadaan seperti itu, namun bersikap baik dan hormat pada semua orang sudah merupakan kebiasaan yang ditanamkan orang tua sejak kecil.

“Iyo..” jawab Bernard singkat sambil menundukan kepalanya. Rika tersenyum mendengar jawaban Bernard yang memang sangat tidak meyakinkan.


“Kk… anana dong tra jadi latihan vocal grup ka ? tanya Rika yang juga merupakan salah satu anggota vocal group di kompleksnya.


“Tra Jadi… Kk Sefnat ada berngkat ke Genyem jadi anana dong malas latihan”, jawab Bernard. Sefnat adalah KK di Kompleks yang suka melatih vocal group, karena memilik bakat alami sebagai seorang seniman yang begitu pandai mengaransemen setiap lagu. Ditangan Sefnat setiap lagu menjadi begitu indah dan penuh variasi yang menawan

“…..Ooo” Rika mengganggukkan kepala tanda paham


“Rika… sa bisa bicara sesuatu ka ?”… Bernard terlihat mulai tidak sabar.

“Io.. KK bicara suda mo, ada apa ka ?” balas Rika dengan serius penuh perhatian

“Mmmm….Rika…sa mo bilang…..sa saying ko…sa ingin pacaran dengan koi” jawab Bernard dengan cepat dan singkat. Seolah olah dia ingin cepat cepat mengeluarkan semua yang tertahan di hatinya.

Rika tersenyum..


“Eh.. Kk mau minum apa ka ? sa ambil minum dulu ee”, Rika seolah berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Eh..mm..jang repot repot, air putih saja” jawab Bernard yang sebenarnya tidak ingin minum, dipikirannya hanya jawaban pasti dari Rika.


“Ok,.. sabar ee..”

Di dapur Rika tertawa terbahak bahak dengan sikap pernyataan cinta dari Bernard. Bagi rika itus ebuah hal yang sangat lucu dan tak pernah terpikirkan untuk menerima cinta Bernard teman sekompleksnya yang suka mabuk dan begadang di kompleks membuat semua orang tua di kompleks kesal. Rika cepat cepat  mengambil air putih dan diantar ke depan, tentunya dia harus bersikap baik, jangan sampai membuat Bernard kcewa dan marah.



“Ini … silahkan diminum..”

“Io..terima kasih..” Bernard meminum air dari Rika dengan sikap yang dibuat sebaik mungkin, (padahal kalu botol tu.. langsung satu napas)

“Rika.. ko belum jawab yang sa bilang tadi tu”, tanya Bernard pelan dengan muka penuh iba, dia sangat berharap Rika menerima cintanya, cinta yang suda lama terpendam tapi tak pernah sanggup diutarakannya. Rika yang sedang dilanda kecewa atas keputusan sepihak dari Yusak, pria yang begitu dicintainya yang telah sekian lama menjalin cinta dengan dirinya, mulai bimbang, ingin punya pacar lagi. “Tapi kenapa musti Bernard, tra menarik sama skali !!!.. datang dalam keadaan lagi” gerutunya dalam hati. Tidak ada yang bisa menandingi ketampanan Yusak, kekasihnya yang telah meninggalkannya. Yusak yang tidak pernah minum minuman keras, tidak merokok, dan hidup sangat teratur, sikap yang berwibawa, membuat semua gadis di kompleks mabuk kepayang dan berlomba lomba ingin menjadi kekasih Yusak, namun Rika lah yang berhasil mendapatkannya, walau akhirnya berlalu..


“Rika… ko jawab saya ka’?

“Mmm kk.. sa bukan tram au jawab, tapi masa kk tanya sa dalam keadaan minum ka ..??!!” Rika mencoba mencari jawaban yang paling bijak dibenaknya.

“Sa tra mabuk rika, itu tadi sdikit saja”, potong Bernard dengan sedikit cemas.

Rika mencoba menghindar dengan trik mengulur waktu agar bisa mencari alasan yang tepat untuk menolaknya.

“Kk…nanti hari senin sore, nanti baru sa jawab, tapi tra bole datang dalam keadaan (Mabuk)”, cepat cepat Rika member solusi agar secepatnya terbebas dari kondisi ini, dan agar Bernard bisa cepat meninggalkan rumahnya.

“Io..suda. kalo begitu sa pulang suda ee, sa harap ko trima saya, sa sayang ko”

Rika mencoba tersenyum manis.

Sore itu Bernard pulang dengan tangan hampa, perasaan kuatir, cemas dan lega bercampur jadi satu, lega karena apa yang ditahan tahan dalam hatinya selama ini sudah berhasil dikeluarkan sore itu. Cemas dan kuatir menunggu apa yang bakal dijawab oleh Rika. Menunggu hari senin 1 minggu lagi, seolah olah menunggu waktu 1 abad bagi Bernard,  betul betul menggelisahkan dan menguras pikiran.

Akhirnya hari yang dinanti pu tiba, Bernard ingin datang tepat waktu, dia tak ingin membuat kesalahan sedikit pun, ajakan teman teman untuk mabuk bersama sama sekali tak dihiraukannya, tekadnya sudah bulat, dia akan datang dengan baik dan sopan, menerima jawaban Rika. Dan dia akan kecewa jika Rika menolak cintanya.


“Mama… sap u kemeja biru yang kemarin tu mana ee…” tanya Bernad pada ibunya, singkatnya Bernard tampil perfect sore itu. Bernard rapid an kemudian menuju.


“Slama sore…!”

“Sore Kk.. duduk di depan saja eee, mama dong ada di dalam jadi” Rika yang sudah menunggu kehadiran Bernard mempersilahkan tamunya.Setelah mereka berdua ngobrol sana sini, akhirnya Rika berkata.


“Kk…sa harap kk stop minum, tra usa kumpul kumpul di mata jalan sana sampe pagi, baru  ganggu ganggu perempuan yang lewat, sa tra mo liat kk begitu lagi..!”

Bernard, menatap Rika dalam dalam seolah mencari ketegasan, Rika tersenyum manis.

“sa trima , KK asal patuhi sap u permintan tu” Rika suda mengambil keputusan untuk mencoba menerima Bernard, pikirnya dari pada dia dalam keadaan kosong, apa salahnya punya seorang pacar, toh kalau Bernard melanggar semua permintaanya, dia akan meninggalkan Bernard. Sebuha hubungan cinta yang berimbang menurutnya, karena dia ikut memegang kendali.

Di relung hati paling dalam, terselip keinginan agar bisa mengubah pria yang buruk sifat menjadi baik.

Sore itu adalah sore terindah dalam hidup Bernard, sore itu sebuah kompleks perumahan di Kota raja menjadi sebuah kompleks paling bersejarah dalam hidupnya. Bukan main girangnya, betapa tidak, untuk pertama kali gadis pujaanya menerima cintanya!! Padahal perasaan tidak yakin karena sikapnya selama ini yang sering mabuk dan membuat onar, dan dibenci orang orang tua se-kompleks.
 Rasanya Bernard ingin melompat lompat dan salto di halaman, kalu saja dia tidak malu sama orang tua Rika yang ada di dalam rumah.

“trimakasih…trima kasih….trimakasih”, 
ujar Bernard berulang ulang sambil mencium tangan Rika dengan sikap yang dijaga tentu sebaik baiknya. Dalam hatinya Bernard bertekat akan menjadi Laki laki terbaik dalam hidup rika, dia akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya dan akan menjaga cinta ini sampai batas kemampuannya, boleh perlu sampai mereka berdua bahkan sampai maut memisahkan.

Sebuah tekad membaca di dada.

Bernard dan Rika  akhirnya menjalin cinta, cinta yang berjalan dengan sangat baik, sejajar dan tulus. Walau awalnya  disambut sinis oleh keluarga dan teman teman. Namun Rika tidak akan dihantui perasaan cemburu maupun takut kehilangan, karena dia tau Bernard sangat mencintainya. Di dalam hatinya dia yakin trada yang mau sama Bernard karena laki laki dihadapnnya ini terkenal brengsek di kompleks.

Seiring waktu yang terus bergulir, Bernard menepati janjinya, berubah menjadi seorang laki laki yang baik tidak pernah lagi minum minum. Dan nongkrong sampai pagi lagi di mata jalan. Dari perubahan itulah maka cinta mereka makin dalam dan kuat, keluarga Rika pun akhirnya merestui.

Kini Bernard dan Rika telah menikah, dari hasil kerja keras Bernard, mereka berhasil mencicil sebuah rumah kecil type RSS di sebuah kompleks perumahan. Mereka dikaruniai Joe dan Caca, dua anak yang sangat manis dan sangat membahagiakan. Rika makin cantik dengan kelahiran dua anaknya,  dia semakin manis dan sexy. Mungkin itulah yang dikatakan, “hati yang bahagia membawa dampak pada fisik”.

Rika kini makin mengerti bahwa ternyata cinta bisa datang kapan saja dan dari mana saja dan tak pernah bisa diduga. Kasih saying yang diberikan mampu membawa Bernard seperti sekarang ini, pria yang sangat berwibawa, dan penuh tanggungjawab dalam kesederhanaan hidup.


 “Kasih yang tepat akan mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan. Dan seorang Rika kini menikmati semua itu.***Black_Fox

Dikeheningan senja lembah Kota Raja.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber Cerpen ini diakses dari media sosial, facebook Julio Sandia dan telah mengkonfirmasi ijin membagi ke blog ini, seluruh materi (isi) dan foto adalah karya yang bersangkutan.



Ucapan terima kasih, teruntuk saudara @Julio Sandia atas karya cerpen ini.  

Senin, September 25

"Apatisme Media Mengenai Dialog Jakarta - West Papua"



Foto : Ist
Ini merupakan kritisi terhadap pers dan media-media lokal serta nasional Indonesia mengenai apatisme mereka untuk menjadi independensi dalam penyaluran informasi.

Beberapa bulan ini, pasca Presiden RI Jokowidodo met dengan belasan elit tokoh dari Papua, disepakati sebuah pola penyelesaian masalah antara Jakarta dan Papua yaitu melalui sebuah dialogue yang diterjemahkan kemudian menjadi “dialog sektoral”.

Dalam ini (dialog) membicarakan masalah –masalah seperti bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, lingkungan hidup, kehutanan sebagai agenda dialog sektoral, hal berdasarkan ungkapan PR. Neles Tebay.

Pater Neles Tebay, berdasarkan sebuah sumber mengungkap, bahwa dia ditunjuk secara resmi dalam pertemuan di istana untuk menjadi person incharges dialogue between Jakarta and West Papua. Pers pun ramai-ramai menyeroboti berita ini layaknya ikan yang kelaparan ditengah kolam, entah publik menanti dengan antusias berita tersebut atau tidak, pokoknya Koran cetak maupun on-line patut menghebohkannya.


Perekembanganpun akhirnya berubah, pasca ULMWP berbicara soal menolak dialog sektoral juga kebebasan untuk menentukan nasib sendiri and pada General debate  of the 72nd session (UNGA), Negara berdaulat Solomon Islands, Diplomat mereka Mr. Manasseh Sogavare, (Prime Minister) said, The Solomon Island condemned consistent human rights violations in west Papua, he said adding that the people there had never been allowed to exercise their right to self determination.

And then Vanuatu Prime Minister, Charlot Salwai Tabimasmas appealed to the UN Human Rigths council to investigate violation in west papua.   

Sungguh ironi, Media-media lokal dan nasional di Papua Barat kemudian berdiam dari pemberitaan dialog di UN  Headquarters, New York city (US) September 12th 2017.  

So, Padahal, publik sangat berharap mangakses peluang dan pilihan mana yang akan digunakan dalam menyelesaiakan hubungan Politik, Jakarta dan  West Papua.  

Apabila media, terus berapatis demikian, media sesungguhnya mewakili dan berada dipihak mana? Andai media netral, di dalam pihak mana netral itu diposisikan. Media sendiri terakhir ini belum menginterview kalangan utama indigenous peoples di west Papua mengenai keinginan mereka apakah dialog sektoral dari Pemerintah Indonesia apakah-benar di setujui andai sosialisasi – sosialisasi telah dilakukan oleh Pater Tebay, and how to build the dialogue process.

Selanjutnya opsi mana yang akan digunakan Pemerintahan Jokowi, apakah mendengar permintaan dari sesame Negara, Solomon atau menolak permintaan pihak Negara-negara Pasifik mengenai bentuk penyelesaian hubungan Jakarta dan West Papua***_Black_Fox.

Minggu, September 24

"Cerpen : Mendung Di Langit Dok II"

            Karya : Julio Sandia

"Kk... bangun dolo, ade lap Kk pu badan dengan air hangat trus Kk makan", ujar Shanty kepada Metu dengan lembut disuatu sore.

Shanty seorang suster muda berparas manis, betapa tidak, campuran darah Sentani, Serui dan Nabire mengalir ditubuhnya. Sebagai suster muda yang baru tamat pendidikan keperawatan dengan segudang cita-cita, Shanty lalu mendedikasikan dirinya, untuk menjadi seorang perawat di Rumah Sakit Pemerintah di Kota ini, dan Metu adalah salah satu pasien rawat inap yang harus opname selama satu bulan karena mengalami kecelakaan lalulintas dan kedua kakinya patah tulang.


Sebagai pasien patah tulang kaki, Metu sangat terbatas dalam bergerak, sehingga sangat bergantung pada keluarga yang menjenguk dan menjaga, terutama para suster yang silih berganti memberikan perawatan secara baik penuh kesabaran. Banyak di Kota ini, tapi dengan kesibukan masing-masing, kadang tidak sempat untuk datang membesuk (mengunjungi) ataupun menjaganya. 

"Say... kaki sudah digips, untuk sementara blum bisa bangun dari tempat tidur".
"ok.. kalu begitu tetap tenang dan ikuti apa yang diarahkan oleh dokter atau petugas disitu, sa masih banyak tugas kuliah, nanti kalu ada libur baru sa ke Jayapura lihat ko"

demikian, bunyi pesan singkat antara Metu dan Siska kekasihnya yang sedang menempuh kuliah di sebuah Universitas di Kota Manokwari. Sejak sekian lama menjalin cinta, Siska adalah satu-satunya pujaan hati Metu, meski Metu adalah seorang pemuda yang tampan, namun baginya Siska adalah segala galanya buah hatinya, dan curahan kasih sayanganya. 

Selama dirawat di Rumah Sakit di Kota Jayapura ini, siska belum sempat sekalipun datang menjenguk Metu, karena kesibukan kampusnya.

Ditengah kesendirian dan keluarga yang jarang datang mengunjungi, Metu lebih banyak menghabiskan waktunya seorang diri, dibantu para perawat yang baik dan tulus dalam mendedikasikan diri dalam pelayanan.

"Kk... keluarga su jarang datang eee..???, Kk su telpon mereka ka ?
"Iyo ade dong semua sibuk jadi mau bagemana"
"Iya suda, kk tetap tenang ee, supaya lekas baikan dan kk bisa pulang, kalo ada perlu apa-apa bilang saja, nanti ade bantu" ujar Shanty dengan senyum lembut yang bagi Metu adalah obat utama pelipur kesedihanya.

Sekian lama merawat pasien bernama Metu ini, ditambah rasa iba karena keluarga yang jarang menjenguk membuat hati Shanty sedih. kian lama dengan penuh kesabaran memberikan perawatan dan berkomuniasi secara intens, Shanty menyadari bahwa sesungguhnya Metu adalah pribadi yang baik, tidak pernah mengeluh, dan selalu memberikan pembelaan terhadap keluarganya bila ada petugas yang bertanya mengapa keluarga jarang sekali mengunjungi dan menjaga. Dari rasa iba itu pula, Shanty kadang menyisihkan gaji perawatnya untuk membelikan pakean, dan beberapa kebutuan pribadi bagi Metu, pasienya.

"Kk.. kemarin dokter bilang minggu ini kk suda bisa pulang, kk kase tau keluarga suda" ujar Shanty suatu ketika dengan nada datar, seolah ingin menyembunyikan perasaanya. suda barang tentu Shanty akan berpisah dari pasiennya, ada rasa bahagia karena pasiennya sudah bisa pulang, namun juga terbesit sedikit rasa kehilangan, sekian lama bersama.... benih benih rasa itu mulai tumbuh.

"Io, dokter su kastau, sa su telpon keluarga dorang, nanti sa pu pacar datang dari Manokwari jemput saya" ungkap metu dengan riang dan berbinar binar tanpa menyadari ada hati yang rawan dan gersang di sampingnya, sang suster Shanty.

Shanty membuang muka, menyembunyikan berbagai rasa yang berkecamuk di dalam hatinya. waktu yang dinanti Metu-pun tiba, segalahnya urusan administrasipun beres, malah sebagian dibantu oleh Shanty, namun Metu tidak mengetahuinya.

Siska sang kekasih pun sudah tiba dari Manokwari.

"Sayang.. baju banyak sampe, baru ka"
 "Io, dari tanta dong di dok sembilan", jawab Metu. 

Metu tidak berani memberi tahu bila baju baju tersebut sesungguhnya adalah pemberian dari Shanty, suster yang setia merawatnya.

"terima kasih banyak suster, sa pamit dulu", ujar Metu pada Shanty.
"oh... ini suster yang merawat Kk Metu yah, makasih ee sudah membantu, saya Siska, Kk Metu punya calon isteri", ujar Siska dengan mantap sambil mengulurkan tangan menyalami Shanty. Shanty membalas uluran tangan tersebut dengan senyum manisnya.

"sama sama, Kk Metu jangan terlalu bergerak ya, juga diperhatikan makannya" pesan Shanty kepada Siska.

Metu dan Siska pun pergi dan berlalu meninggalkan Rumah sakit dok II Jayapura, diiringi tatapan sayu dari Shanty, tak terasa air mata jatuh dipipinya, sekian alam merawat Metu, Shanty telah jatuh hati, cintanya telah tertambat pada sosok Metu, pemuda Papua yang manis, tabah dan tidak pernah mengeluh dalam kesendiriannya selama di rumah sakit.
Dalam hatinya Shanty berbisik " Siska.. ko beruntung sekali punya Kk Metu, andai ko tidak mau liat dia, saya mau sayang dia".

Shanty menyadari, pasien yang dirawat dengan kasih sayang, sampai menyisihkan gajinya pula, adalah milik orang lain.

Dalam hati Shanty berdoa agar Metu bahagia dan disayangi oleh Siska dengan baik.

Hati Shanty yang mendung tertutup awan kelabu, bersandar di dinding Rumah Sakit meratapi rasa yang baru tumbuh dan harus sirna.

andai Metu tahu .....Black_Fox

-------------------------------------------------------------------------------

Ini adalah cerita rekaan semata, foto ilustrasi diperankan model.
September 2017, Di tepian Teluk Youtefa.

Sumber Posting ini diakses dari Facebook : Julio Sandia dan sudah mengkonfirmasi ijin membagi ke blog ini. seluruh isi dan foto adalah karya yang bersangkutan. 

Ucapan terima kasih, teruntuk Saudara @julio sandia atas cerpen ini.



Selasa, September 5

“Meneropong Sepintas Drama Dialog Sektoral Papua”



Dialog kembali menjadi heboh selama berapa pekan terakhir, pasca tatap muka Presiden RI, Jokowi dengan belasan tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan Adat, Agama dan Aktifis Papua di istana Negara RI dua hari sebelum pelaksanaan HUT Proklamasi RI ke 72 tahun.  

Sumber-sumber terpercaya mengungkap, pertemuan antara RI 1 dengan para tokoh-tokoh diatas disebut mendadak bagi kalangan tokoh-tokoh diatas, mereka diundang by- phone (tidak melalui surat tertulis dari istana), mereka bahkan tidak pernah mengetahui agenda pertemuan dan waktu pertemuan melainkan hanyalah Paspampres yang mengetahui schedule. 

Situasi tersebut, praktis dipastikan, para tokoh – tokoh tersebut tidak dapat mempersiapkan dengan matang agenda apa dan siapa yang dapat mewakili belasan orang tersebut berbicara langsung dengan pemimpin tertinggi Negara.

Siang, menjelang sore hari, antara pukul 14.00 Wib, 15 Agustus 2017 pertemuan itupun berlangsung diistana Negara usai para tokoh-tokoh ulung Papua ini dijemput dari Hotel tempat inap oleh petugas penjemput yang berasal dari lstana Negara.

Sumber terus mengungkap, pertemuan berlangsung bersama Presiden, terdapat juga Jendral Wiranto yang juga hadir dalam kapasitas Menkopolhukam.

Presiden menegaskan, pemerintah focus bangun Papua, terutama infrastruktur dan ada banyak hal mengenai pembangunan fisik yang diungkap Presiden. Selanjutnya Presiden mempersialhkan kalangan undangan ini berbicara.

Ada banyak hal juga yang disampaikan dalam pertemuan tersebut oleh para tokoh-tokoh Papua ini, salah satunya adanya keharusan Pemerintah RI berdialog secara langsung dengan rakyat Papua untuk mengatasi permasalahan – permasalahan di Papua.

Pernyataan dialog inilah yang kemudian menjadi heboh….. konotasi dialog disederhanakan menjadi dialog bidang pendidikan, bidang kesehatan, bidang kehutanan atau yang kemudian disebut oleh Pr. Neles Tebay DIALOG SEKTORAL.

Pater. Tebay adalah Kordinator JDP, termasuk salah satu dari para tokoh yang dijumpai presiden di istana siang hingga sore hari itu. Tebay, kemudian ditunjuk secara lisan oleh istana untuk mempersiapakan proses – proses menjelang dialog sektoral tersebut, dibantu Jendral Wiranto (Menkopolhukam) dan Teten Masduki staf kantor kepresidenan. 

Di Papua, ketika meeting berlangsung, tidak banyak orang Papua yang mengetahui pertemuan itu praktis dapat disebut pertemuan itu menjadi pertemuan strategis perdana yang diisolasi rezim Jokowi, akibatnya dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2017, Presiden tidak banyak mengungkap capaian maupun policy-nya untuk Papua pada pembicaraan level pidato kenegaraan sekelas HUT RI ke-72 tahun.

Selang beberapa hari kemudian usai 17 Agustus 2017, meeting istana menjadi heboh di dunia maya, netizen dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat banyak berkomentar miring pertemuan antara Presiden denga tokoh-tokoh Papua tersebut.

Mengabaikan ULMWP
Masalah Papua bukan lagi soal kesejahteraan, sandang, pangan atau yang sejenisnya bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi kerakyatan adalah cakupan kecil dari problem besar yang menganggu hubungan papua – Jakarta 50an tahun. Jelaslah tidak bisa sesederhana itu mendialogkan permasalahan kecil dengan mengabaikan permasalahan besar.

“Sejarah hubungan Papua ke dalam Indonesia” itulah masalah yang tidak tuntas, disitulah sejarah yang diabaikan, disepelehkan begitu saja oleh istana dalam pertemuan dadakan itu.
United Liberations Movement for WP (ULMP) kemudian berdiri kokoh di pengasingan sebagai wakil resmi bangsa Papua untuk memperjuangan pengakhiran sejarah hubungan yang menduri dalam daging hubungan Jakarta West Papua itu.

Mengabaikan ULMWP dalam dialog  yang kemudian disebut sektoral adalah politik penghancuran ULMWP, ibarat mengganti celana baby tetapi popok yang kotor ditutup dengan celana baru. hari ini bangsa Papua dengan penuh high awarnes tidak akan masuk kembali ke mulut buaya, mereka bersuara menentang dengan respect terhadap Pemerintah Demokrasi RI yang paling baik hati.      

Melupakan Konferensi Perdamaian Papua 5 – 7 Juli 2011
Pater Tebay, seakan lupa bahwa pertemuan 5 – 7 Juli 2011 di auditorium Uncen Jayapura adalah Konferensi Perdamaian yang telah menghasilkan sejumlah rekomendasi Juru runding  West Papua terhadap pemerintah RI. Dan sejumlah west Papuan leaders di ULMWP merupakan juru runding hasil rekomendasi kegiatan yang difasilitasi sendiri oleh Pater Tebay. Now, what the next ? jika ada pemimpin Negara (RI) yang berinisiatif dialog.

ULMWP menjawab :
ULMWP dengan jelas menolak tegas dialog. Okto Mote, Secretary General, Says, “it’s too late. The world knows, that we tired for the negotiations with Indonesia for years. We are only interested when internationally-mediated-negotiation (happens), not dialog. “Internationally-mediated negotiation.


Prespektif Pribadi
 
Membaca prospek dialog sektoral ini, tidak akan mengubah atau memperbaiki apapun untuk orang asli Papua kedepan. Dialog sektoral ini sama halnya revisi Undang-Undang Otonomi Khusus Papua yang dsebut Otsus Plus dipengujung kekuasaan direzim SBY namun tidak ada hasilnya hingga hari ini, kemdan disebut DIALOG SEKTORAL.  Otsus Plus kala itu dengan semangatnya memperbaiki sector-sektor yang direncanakan menjadi topic dialog saat ini namun hasilnya tidak terealisasi, mengapa. Jawaban sederhana yaitu. Satu. Mayoritas korban pelanggaran HAM, korban kekejaman sejarah tidak benar-benar mendukung komitment politik tersebut, berikutnya kedua, Pemerintah masih terlalu phobia hingga setengah hati membuat kebijakan Negara untuk papua, dan ketiga, militer masih mendominasi berbagai sector di Papua dengan klaim menjaga NKRI harga mati.

What happened ??..Kita menunggu perkembangan drama ini kedepan**_black_fox

Notes : tulisan ini didedikasikan untuk generasi muda papua, sebagai referensi berpikir (wacana) kritis di dalam Negara dan menjadi bagai dari the rights to freedom on expression and opinion . 

Sumber posting : artikel pribadi