WELCOME TO MY PERSONAL BLOGER : "FOY, TABEA, TAOP SONG, MAHIKAI, SWEII, AMULE MENO, NAYAK, WAINAMBEY, ACEM AKWEI, ABRESO..!!

Selasa, Januari 9

"Protes Pribadi Perlakuan Rasialis Filep Karma"

Foto Doc. Pribadi
Mengawali tulisan ini saya teringat  buku "SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG"https://banundisimon.blogspot.co.id/2015/06/resensi-buku-seakan-kitorang-setengah.html yang ditulis sendiri oleh Filep Karma sewaktu masih menghuni Lapas Abepura, kala itu (tahun 2015) saya mengutip buku ini ulang yang menurut saya pribadi (menyebut) secara resensi untuk buku tersebut. 

Bagi saya, dia seorang ikon pejuang untuk generasi tahun 1980an seperti saya, dia menulis dengan berani dan polos rasialisme rezim Indonesia terhadap Papua, dia seabagi korban ketika menulis ungkapan itu melalui buku. 

Pada November 2015, Filep Karma keluar dari penghukuman yang telah dijalani lebih dari 10 tahun atas tuduhan kejahatan Makar terhadap Negara, saya ingat betul pemberitaan saat itu mengulas pernyataan Filep Karma, DIPAKSA BEBAS, DARI PENJARA KECIL KE PENJARA BESAR. dan diapun benar-benar berada dalam apa yang patut untuk kita layaknya menyebutnya penjara. 

Filep Karma, ini sang ikon pejuang atau human rights defenders di Papua Barat, karena prinsip dia yang non-kekerasan dalam setiap tindakan, latar belakang ini Pemerintah Indonesia pun dalam UPR (Universal Periodic Review) dewan HAM PBB memperoleh recomended agar Filep Karma mendapati kebebasan dari ruang tahanan Pemerintah. 

Apa yang diungkap Filep Karma itu menjadi Fakta yang tidak terbantahkan bahwa ia harus free unconditionally, this is serously problem yang pengabaian oleh pemerintah. 

awal tahun baru 2018 ini, dia mendapati perlakuan yang seperti sudah dia sendiri menubuatkan sebelumnya "SEAKAN KITORANG SETENGAN BINATANG".

Goblok...!!
Bodoh ...!!
Monyet ..!!

Perkataan ini dilontar tanpa merasa bersalah oleh beberapa orang personil TNI AU di bandara Soekrano Hatta antara pukul 11.00 - 01.00 Wib (2 - 3 Januari 2018).  ini menjadi kado pahit tahun baru, padahal Jokowi baru saja beberapa minggu sebelumnya mengunjungi Papua barat, Jokowi berkomitmen tiga kali dalam setahun masuk ke Papua, apa yang dia, Presiden perbuat ? jika Filep Karma yang dia bebaskan melalui kebijakan remisinya bisa ditahan kembali sewenang-wenang oleh militer AU Indonesia. 

Militer sendiri tidak punya wewenang memeriksa sipil dalam hukum acara pidana, tetapi mengapa mereka tidak sedikitpun merasa itu (pemeriksaan Pin Bintang Kejora) bukan wewenang militer, melainkan Polri.

Sejauh ini KASAU TNI belum membuat pernyataan Maaf, apalagi memeriksa prajurit yang bertugas di Bandara malam itu, padahal kalau ada pernyataan maaf, ini bisa menjadi headline news media dalam dan luar Negeri.  

Fakta rasialisme ini belum juga tamat, dia rupanya tidak menulis masa lalu dalam buku SEAKAN KITORANG SETENGAH BINATANG, tapi rupanya dia menulis masa depan Papua Barat.  

Tulisan ini adalah protes pribadi, Negara harus berani untuk mengakhiri rasialisme ini kalau Izrael bisa ditentang mati-matian mengapa Papua Barat yang didepan mata diabaikan.***end/Black_Shark